Di Jatim, Hasto lahap masakan Madura

Surabaya (ANTARA) – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto selama tiga hari terakhir berada di Jawa Timur.

Tidak hanya mengkonsolidasikan para kader PDIP untuk menghadapi Pemilihan Umum tahun 2024, melainkan juga menjelajah kuliner khas Jatim.

Salah satunya menyempatkan makan siang Bebek Sinjay dengan mengunjungi kedainya langsung di Bangkalan, Madura, yang berjarak tempuh sekitar 45 menit dari Pusat Kota Surabaya, Jumat.

Hasto memesan sepotong bebek Sinjay, lengkap dengan sambal mangga muda alias “sambal pencit” yang menggoda lidah.

Secentong nasi hangat menemani sajian bebek legendaris tersebut. Daun kemangi, tumbuhan aromatik yang menguarkan aroma wangi, menjadi sayur pendamping.

Tak lupa, Hasto melengkapi sajian makan siangnya dengan mentimun yang memiliki kandungan air sangat tinggi dan dikenal mengandung anti oksidan.

“Luar biasa lezatnya. Kalau dalam bahasa Madura, nyaman ongguh. Bumbunya meresap ke daging, jadi di setiap gigitan memiliki cita rasa yang optimal,” katanya.

Hasto memuji olahan daging bebek khas Madura yang empuk.

“Saat digigit, daging bebeknya sama sekali tidak alot. Tambah pas minumnya es kelapa muda yang airnya sangat menyegarkan,” ujar doktor alumnus Universitas Pertahanan itu.

Sehari sebelum menjajal Bebek Sinjay, Hasto juga melahap soto khas Madura “Tapak Siring” di kawasan Dharmahusada, Surabaya. Di depot legendaris ini, bisa memilih soto dengan daging, babat, dan usus. Tentu saja juga bisa dicampur.

“Kuahnya gurih. Memang rasanya berbeda dengan soto yang pernah saya coba sebelumnya. Ini enak sekali. Dagingnya empuk dan lembut. Terasa sekali,” katanya.

Yang spesial, kata Hasto, di Soto Tapak Siring, nasi disajikan dengan bungkus daun pisang, sehingga aromanya pun lebih nikmat.

Sajian taburan bawang goreng dan seledri semakin membangkitkan selera ketika menikmati soto legendaris tersebut. “Tambah segar ini. Kita beri perasan jeruk nipis,” ujarnya.

Hasto melengkapi sajian sotonya dengan satu buah telur ayam rebus. “Untuk sementara saya libur jeroan dulu,” katanya.

Hasto mengajak masyarakat untuk bangga kepada kekayaan kuliner Nusantara. Bumbu-bumbunya khas, sangat unik sesuai karakter daerah.

Bahkan meski berasal dari satu jenis masakan, antar daerah itu beda cara masak dan penyajiannya. “Rasanya pun bisa beda di tiap daerah, meski itu satu jenis masakan yang sama,” ujarnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *