Memaksimalkan Peran PTPN Group Dalam Industri Kelapa Sawit Indonesia 

Prospek bisnis minyak kelapa sawit di Indonesia masih akan tetap positif dalam jangka panjang, meskipun dihantam sejumlah isu negatif akibat persaingan dagang di pasar global. Bahkan, konflik geopolitik dapat mempercepat substitusi minyak nabati lain menjadi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya, seperti yang terjadi saat perang Ukraina vs Rusia. 

Sawit merupakan komoditas penghasil minyak nabati yang paling efisien. Produktivitas kelapa sawit rata-rata mencapai 3,3 ton per hektare (ha) per tahun.

Sedangkan, tumbuhan penghasil minyak nabati lainnya, seperti rapeseed hanya mampu memproduksi 0,7 ton minyak nabati per hektare per tahun, bunga matahari 0,7 ton per hektare per tahun, kedelai 0,4 ton per hektare per tahun, dan kelapa 0,7 ton per hektare per tahun.  

Angka ini menunjukkan bahwa, produktivitas kelapa sawit lima hingga delapan kali lipat lebih besar dibandingkan  tanaman penghasil minyak nabati lainnya.

Selama tidak terjadi peningkatan produktivitas secara drastis dari tanaman lain, ataupun penurunan drastis dari kelapa sawit, maka harga minyak sawit, tetap jauh lebih ekonomis dibandingkan  minyak nabati lain di pasar global. 

Semua data ini, sudah cukup menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk terus mempertahankan posisinya, sebagai penghasil sawit terbesar di dunia.

Produktivitas lahan dan pabrik minyak sawit harus terus menerus ditingkatkan. Hilirisasi produk sawit dikembangkan, sehingga ekspor sawit tidak hanya dalam bentuk minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga dalam bentuk produk-produk turunannya yang memiliki nilai tambah lebih besar.

Pemerintah harus mengupayakan agar investor domestik maupun asing mau membangun pabrik produk-produk sawit di Indonesia, seperti coklat, kosmetik, dan sebagainya dari pada hanya mengimpor CPO dan minyak goreng. Dengan begitu, nilai tambah minyak sawit bagi perekonomian semakin dinikmati masyarakat.  

Jika kita melihat data, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi produksi minyak sawit tahun ini akan meningkat sebesar 8 % hingga 10%  jika dibandingkan dengan produksi tahun 2021. Tahun lalu, produksi minyak sawit mencapai 51,30 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 46,88 juta ton dalam bentuk CPO dan 4,41 juta ton minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/ CPKO). 

Dari total produksi tahun 2021, sebanyak 18,42 juta ton di pasarkan di dalam negeri, sedangkan sebagian besar atau 34,23 juta ton diekspor ke sejumlah negara. 

Sementara itu, total konsumsi minyak nabati dunia, seperti dilansir statistika.com, mencapai 207,93 juta metrik ton per tahun. Minyak sawit mengisi 36,3% pangsa pasar minyak nabati dunia, sedangkan sisanya dikuasai oleh delapan tumbuhan penghasil miyak nabati lainnya.  

Data ini menjadi tambahan bukti, bahwa peluang bagi perusahan sawit Indonesia untuk mengisi pasar ekspor masih sangat besar. Tidak hanya menyasar pasar ekspor, perusahaan di dalam negeri juga masih berpeluang besar untuk mengelola produk hilir dari minyak sawit. 

Rentan Gejolak Harga

Sejalan dengan besarnya potensi ini, minyak kelapa sawit yang menjadi bahan baku salah satu dari Sembilan Bahan Pokok di Indonesia, sangat rentan terjadi gejolak harga. Masalah tidak hanya terjadi ketika harga internasional anjlok karena perusahaan dan petani akan langsung merugi.  

Persoalan juga ada ketika harga naik karena akan mengancam bisnis makanan dan kebutuhan rumah tangga karena harga minyak goreng di dalam negeri akan ikut meroket. Apa yang dapat dilakukan  pemerintah untuk mengendalikan harga ini, di tengah produksi minyak sawit sudah dikuasai oleh perusahaan swasta? 

Yang perlu dilakukan adalah menunjuk satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dapat menjadi menjadi perpanjangan tangan Pemerintah untuk mengatur perdagangan internasional dan menjadi koordinator pelaku industri sawit. 

Sehingga, Indonesia dapat menjadi pelaku utama perdagangan dan penentu harga sawit internasional dan dapat mengendalikan harga minyak goreng di dalam negeri.  BUMN dalam hal ini Palm Co yang sedang dalam proses pembentukan organisasi di internal PTPN Group, dapat mengambil peran itu karena potensinya ada. 

Caranya, dengan meningkatkan produktivitas lahan kebun dan pabrik Palm Co sendiri, meningkatkan produksi produk hilir, serta berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan petani rakyat dengan bermitra dengan perusahaan atau petani plasma, maupun petani swadaya atau mandiri. 

Seperti diketahui, holding BUMN Perkebunan, yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III sedang membentuk sub holding Palm Co yang khusus mengelola lahan perkebunan dan pabrik kelapa sawit milik PTPN Group. Sub holding Palm Co ditargetkan sudah terbentuk pada akhir tahun 2022.  

Dengan menjadi sub holding dan mengelola satu komoditas tersendiri, maka peran PTPN Group melalui Palm Co dalam industri kelapa sawit akan semakin besar. Saat ini, data Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020-2022, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, menunjukkan PTPN Group perkebunan sawit yang nantinya menjadi Palm Co hanya akan menguasai kurang dari 5% lahan sawit dan kurang dari 10% produksi CPO.     

Sementara itu, dengan adanya revitalisasi perkebunan dan pabrik kelapa sawit (PKS) PTPN Group, melalui Palm Co, maka produksi CPO dari Indonesia akan meningkat tajam dari saat ini di masa mendatang, sehingga Indonesia menjadi produsen minyak nabati yang semakin diperhitungkan dunia.  

Berdasarkan data Kementerian Pertanian Amerika Serikat, tahun 2022, Indonesia akan menjadi pemasok CPO terbesar dunia. Produksi Indonesia diperkirakan  mencapai 46,5 juta metrik ton (MT), jauh mengalahkan Malaysia yang diprediksi hanya menghasilkan 19,8 juta MT CPO.

Di peringkat ketiga ada Thailand dengan volume produksi 3,26 juta MT, disusul Kolombia 1,83 juta MT, Nigeria 1,4 juta MT, Guatemala 910 ribu MT, Papua Nugini  650 ribu MT, Honduras 600 ribu MT, Côte D’ivoire 600 ribu MT, serta Brasil sebanyak  570 ribu MT di urutan ke-10. 

Sementara itu, 10 negara lain yang masuk 20 besar produsen CPO tahun ini, secara berurut dari peringkat ke-11 hingga ke-20, meliputi Ekuador, Kamerun, Kongo, Ghana, India, Kosta Rika, Meksiko, Peru, Filipina, dan Sierra Leone. 

Selain menjadi pendongkrak produksi, Palm Co dapat menjadi perpanjangan tangan Pemerintah untuk melakukan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Berbagai subsidi dan insentif kepada petani, secara langsung dapat disalurkan melalui kemitraan Palm Co dengan para petani swadaya. 

Penyediaan minyak goreng dengan harga terjangkau rumah tangga kurang mampu juga dapat dilakukan melalui mekanisme subsidi. Namun, tugas ini tidak dilakukan oleh Palm Co, tetapi oleh pemerintah dalam hal ini Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). 

Selain CPO, Palm Co dapat juga mengolah kelapa sawit menjadi produk turunan lainnya. Palm Co juga memasarkan CPO maupun hasil-hasil kelapa sawit lainnya. Dengan demikian, Palm Co akan menciptakan efisiensi karena beberapa kegiatan usaha dilakukan di dalam satu perusahaan.  

Jika dikelola sesuai dengan strategi yang telah diterapkan, Palm Co akan menambah kekuatan Indonesia sebagai penghasil terbesar minyak sawit dunia. Sedangkan, dari sisi korporasi, Palm Co akan membawa PTPN Group menjadi perusahaan yang efisien, menguntungkan dan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional  

*) Ekonom/Dosen FEB Universitas Indonesia

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *